Friday, December 9, 2011

UNTUK PARA SUAMI,MENGHADAPI ISTERI YANG CEREWET

Adakah isteri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan isteri Khalifah sekali pun Umar bin Khatab pun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan isterinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar isteri Umar sedang mengomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi isteri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan isterinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat isterinya mengomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri kerana ingat 5 hal. Isterinya berperanan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak boleh menundukkan pandangannya, nescaya panah-panah syaitan berpeleseran dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.
Adalah sang isteri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah isteri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.
Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada isteri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang isteri dapat menari, bernyanyi dengan liukkan yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu isteri yang solehah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga petang suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai menjelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan wang, beli ini beli itu. Untunglah ada isteri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia. Ada isteri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.
Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Nescaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih teladan daripada isterinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan isteri, kerana (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak boleh menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh montel malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya perunding imej yang setiap pagi menyiapkan pakaiannya, memilihkan apa yang sesuai untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelitian isteri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu..

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang isteri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan isteri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Isteri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Sihat dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah isteri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar faham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. tenaga berkurang, membanting tulang seharian. Ia perlu makanan untuk mengembalikan tenaga. Di meja makan suami cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kicap, sayur asam, sambal terasi dan lain-lain. Tak terfikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi isterinya sempat bertengkar, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, ikan, ayam atau memasak. Tak pening ia memikirkan berapa sukatan garam secukup rasa agar rasa sedap di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang makan dengan jumlah berlebihan; meninggalkan sedikit saja untuk isteri si juru masak. Tanpa ambil kira isteri selalu menjadi juru masak terbaik untuk suami. Mencatat dalam ingatan makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peranan ini, Umar kerap diam setiap isterinya mengomel. Mungkin dia letih, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di bahunya. Isteri telah berusaha membentanginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang isteri, tak mengapa dia mendengarkan keluh kesahnya..

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan isteri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila isteri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasihati, dengan cara yang baik, dengan bergurau senda.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

5 comments:

abah khalisha said...

terima kasih isteri ku

Irfa said...

kalau semua suami menyedarinya.aman
rumah tangga

MamaEma said...

adakah diri ini cerewat..ALHAMDULILLAH tidak cerewat pun

eB ezrin said...

hanyer dpt doakan. hu3

Papa Mifz said...

berdoa semoga boleh menjadi seperti Umar..;)